Thursday, 2 January 2014

Moga ada



''Ikhlaskanlah
Relakanlah.''

Tapi itulah perkara paling rumit aku lakukan.
Bertahun.Aku meredam tangis yang tak sudah.
Kepergian itu salah satu hal darinya,ada hal lain yang belum bisa aku terima.
Kekecewaan tentang hak kemanusiaan.
Tentang hak hak yang terpinggir sesudah kepergian.
Tuhan maha Adil.Tapi dimana layaknya keadilan itu andai benar ia wujud?

Ampunkan aku ya Tuhan.
Bertahun mempertahan hak yang sebetulnya menjadi milik kami.
Tapi nyata manusia lain yang mendapat hasil.
Oh manusia rakus berhati binatang.
Dimanakah belas ehsanmu?
Bukankah kau lebih arif tentang syariat dan hal hal ugama?
Tentang hukum kebatilan yang menjadi keangkuhanmu?

Berhiduplah atas kesusahan dan kesedihan si yatim.
Walau sekarang Tuhan tangguhkan doa-doa suci kami
akhirat tetap memanggil menghitung atas setiap isian perutmu.

Dan kalian.Jangan ajarkan aku tentang sabar dan tenang.
Kerana aku lebih tahu makna sabar itu dari segenap kisah hitam yang aku injaki.
Maaf.Kita mungkin selisih.Tapi itu yang aku rasakan wajar.
Walau kadang aku hilang waras.

Disini.Di kota asing ini.Aku sendiri.Membawa diri.
Bersama hasrat semoga lara ini mati terkubur dari mimpi mimpi jelik semalam.
Dengan penuh kebencian aku tinggalkan tanah kelahiranku.
Kerana aku percaya.Masih ada sebuah kehidupan untuk seorang aku.

Malam ini.Sesegar ingatan di subuh hari lakaran dua wajah itu maseh utuh disanubari.
Dingin saat aku mengucup dahinya maseh terasa kini.
Dan...
maseh terpalit kesedihan dan kekecewaan saat sekujur tubuh itu pergi bersemadi pada lahadnya.

Sehingga kini aku tetapkan hati.Bangkit dari segenap kesepian dan kekecewaan.
Teruslah bertabah.Moga ada yang mau mengerti untuk berkongsi.
Moga maseh ada yang sudi mendengarkan suara hati ini.